Stay in touch
Subscribe to our RSS!
Oh c'mon
Bookmark us!
Have a question?
Get an answer!

Rokok elektrik 'vaporizer' pun bisa jadi media hacker

0 comments

Ternyata melakukan 'vaping' punya kekurangan meski banyak yang menganggapnya keren. Dengan sedikit modifikasi, peretasan ke komputer Anda bisa terjadi.

Dilansir dari Mashable, sebuah firma keamanan bernama FourOctets menyebutkan satu aspek berbahaya dari vapor: port USB. Benar, digunakan untuk mengisi daya, dengan adanya USB port dan kebutuhan perangkat vapor untuk diisi dayanya, seboah kode bisa dimasukkan ke komputer lewat vapor.

Dalam sebuah video demostrasidari FourOctets, sebuah vapor yang dikoneksikan ke laptop langsung muncul tulisan :DO U EVEN VAPE BRO!!!!"

Memang terlihat seperti hal tersebut merupakan lelucon. Namun bayangkan saja jika tulisan tersebut merupakan keylogger atau ransomware. Praktis, vapor jadi media yang sangat mudah jadi platform hacker menjalankan aksinya.

Meski praktiknya masih belum terjadi, hal ini patut diwaspadai. Jangan tancapkan perangkat vapor Anda ke laptop atau PC. 

0 comments:

5 Media Sosial Diriset, Mana yang Paling Tidak Sehat?

0 comments

Laporan survei terbaru dari Royal Society for Public Health (RSPH) di Inggris pada awal 2017 menjawab pertanyaan selama ini tentang pengaruh penggunaan platform media sosial bagi remaja dan dewasa. Jawabannya adalah media sosial berpengaruh baik sekaligus buruk secara bersamaan.

Dalam survei tersebut, para peneliti meminta hampir 1.500 anak muda Inggris berusia 14 sampai 24 tahun untuk berbagi pemikiran mereka tentang lima platform media sosial populer yaitu Facebook, Instagram, Snapchat, Twitter, dan YouTube.

Para responden berbagi pendapat yang menyoroti hal-hal positif dan negatif. Dalam banyak kasus, media sosial dinilai oleh responden sebagai penyebab depresi atau perasaan cemas.

Kualitas tidur juga terpengaruh karena telat tidur dan terbangun untuk memeriksa pesan di smartphone. Namun, RSPH mengatakan satu dari lima anak muda tetap melakukannya.

Meskipun media sosial berpengaruh buruk, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa media sosial juga dapat membawa hal positif dan membantu menjaga hubungan sosial.

Laporan penelitian tersebut mengungkapkan bahwa YouTube menjadi satu-satunya platform dengan dampak positif paling banyak, yang berarti bahwa YouTube memiliki kemampuan untuk berbuat lebih baik terhadap kesehatan mental anak muda.

YouTube menjadi provider pendukung emosional, platform yang sesuai untuk ekspresi diri dan membangun identitas diri, dan alat yang dapat diandalkan untuk membangun komunitas.

Sementara itu, platform lainnya ternyata tidak lebih baik. Ternyata, platform yang berpotensi tidak sehat adalah Instagram dan Snapchat, yang efek negatifnya melampaui tingkat positifnya.

Twitter dan Facebook masih sedikit lebih baik dibanding Instagram dan Snapchat, meskipun secara keseluruhan masih "dalam warna merah".

Banyak alasan mengapa penggunaan jejaring sosial mungkin berbahaya bagi pemikiran anak muda yang tengah berkembang, di antaranya adalah karena informasi yang disajikan tidak selalu merupakan representasi realitas yang akurat.

Tidak hanya berbicara tentang dampak negatif dari foto-foto selebriti dan model yang tidak senonoh, bahkan tubuh para model tersebut dapat mengintimidasi perasaan anak muda terhadap tubuh mereka.

Postingan yang dibagikan di media sosial cenderung membentuk profil diri sesuai pandangan yang diingkinkan orang lain -- menyenangkan, aktif, dan menarik.

Anak muda yang menganggap hidup mereka membosankan dibandingkan dengan orang-orang yang mereka ikuti di media sosial mungkin mengalami emosi negatif yang dapat menyebabkan depresi seiring berjalannya waktu.

Peneliti percaya bahwa perbedaan antara media sosial yang berdampak positif dan negatif yang paling besar terdapat pada fokus dan konten platform.

CEO RSPH Shirley Cramer mengatakan bahwa Instagram dan Snapchat mengkhususkan diri dalam menerbitkan gambar, yang "mungkin membuat perasaan tidak mampu dan cemas pada anak muda."

Ahli menyarankan bahwa konteks lingkungan dan kehidupan sehari-hari lebih baik diterjemahkan melalui video daripada melalui gambar diam, dan hanya melihat gambar orang yang bahagia dan tampan tanpa konteks seperti itu dapat dengan mudah membuat pengguna lain merasa kurang, depresi, atau tidak bahagia.

Asumsi ini tentu bisa diperdebatkan, namun menurut Royal Society for Public Health lebih dari 90 persen anak mudia usia 16-24 tahun menggunakan internet untuk jejaring sosial.

Maka, mengetahui lebih banyak tentang risiko dan manfaat yang terkait dengan media sosial dapat menjadi ide bagus, terutama bagi orang tua, sebagaimana dilansir Antara.

0 comments:

Pengguna PC Lebih Emosional dari Pemakai Ponsel

0 comments






















Sebuah studi terbaru mengungkap perilaku dari pengguna perangkat elektronik, seperti ponsel dan PC.

Menariknya, studi menunjukkan hasil yang cukup kontras antara keduanya. Pengaruh dari masing-masing perangkat, ditengarai menjadi pemicu cara berpikir penggunanya.

Dilansir Ubergizmo via Engadget, Minggu (28/5/2017), studi yang dipublikasikan di jurnal Computers in Human Behavior ini melaporkan bahwa pengguna PC cenderung lebih peka dengan perasaan.

"Saat membuat keputusan, mereka cenderung lebih mengandalkan emosi yang intuitif," tulis paparan hasil studi tersebut.

Sementara, pengguna ponsel justru lebih menggunakan logika ketimbang perasaan saat membuat sebuah keputusan.

"Mereka (pengguna ponsel) langsung berpikir instan tanpa harus memperhatikan apa yang dirasakan saat itu juga," begitu isi lanjutannya.

Pengguna ponsel lebih mengandalkan logika disebabkan oleh cara penyajian informasi via internet yang justru lebih menunjukkan satu informasi spesifik, sedangkan PC memperlihatkan beberapa informasi yang beragam.

"Apa yang kami temukan di studi ini adalah pengguna ponsel itu memang sering disuguhkan dengan informasi yang lebih mengerucut, mereka cerna informasi tersebut dalam satu waktu. Mereka biasanya dihadapkan dengan masalah moral klasik, jadi mereka tidak mengandalkan perasaan sama sekali," kata Albert Barque-Duran, pimpinan studi.

Namun, studi tersebut ia tekankan tidak bersifat akurat secara menyeluruh. Pengguna ponsel dan PC yang dimaksud adalah pengguna yang sering memakai masing-masing perangkat dalam skala waktu rutin.

"Jika ada pengguna yang sering memakai ponsel dan PC dalam waktu rutin bersamaan, bisa jadi cara berpikir mereka bisa digabung dan jadi kompleks," pungkasnya.

0 comments:

Korea Selatan punya jumlah 'robot per kapita' terbesar di dunia

0 comments

 Robot adalah bagian besar dari teknologi modern. Di berbagai pabrik bantuan robot tak terelakkan, bahkan hingga mampu mengalahkan keterampilan manusia. Namun siapakah yang mempunyai robot terbanyak? Jawabannya adalah negeri ginseng.

Benar, dilansir dari Mashable yang mengutip International Federation of Robotics, Korea Selatan memiliki jumlah robot yang cukup besar. Yakni 531 buah robot industrial di tiap 10.000 pekerja industri pabrik.

Angka ini mengalahkan beberapa negara yang sudah lama pula menggunakan robot di industri mereka, seperti Singapura, Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat.

Menurut International Federation of Robotics, rasio standar rata-rata antara robot dan manusia adalah 69 robot per 10.000 pegawai.

Pemerintah Korea Selatan sendiri sangat perhatian di bidang robotik. Terbukti dengan alokasi dana pemerintah Korsel sebanyak 450 juta Dollar untuk aspek robotik selama 5 tahun ke depan.



Meski demikian, robot-robot yang ada di Korea Selatan tak cuma robot industrial. Berbagai robot seperti robot yang dibuat untuk menemani minum soju, serta robot yang bisa dikendarai dengan tinggi 4 meter, yang terlihat pada gambar di atas.

0 comments:

DJI Spark: Drone 'mini' yang akan ubah peta permainan industri drone

0 comments
 Pada Rabu (24/5) perusahaan drone terkemuka asal China, DJI, meluncurkan drone terbarunya bernama Spark. Drone ini sangat berbeda dari drone kebanyakan, karena bentuknya yang sangat mungil.

Dilansir dari Mashable, drone yang hanya sebesar smartphone ini cukup kecil bahkan untuk disaku. Drone ini cocok untuk selfie karena berbagai fitur video shot yang terbenam dalam software camera milik Spark.

Spark sendiri sepertinya mengambil segmen yang beda dari produk DJI yang lain seperti DJI Phantom dan juga DJI Mavic Pro yang sebenarnya cukup kecil dan memiliki lengan yang bisa dilipat. Hal ini terlihat dari kualitas kameranya yang berada di bawah produk DJI lain.



Kamera Spark mengusung 1 2/3 inci sensor yang bisa mengambil foto dengan resolusi 12MP, dan juga video beresolusi 1080p dengan framerate 30 fps. Selain itu, Spark hanya memiliki 2 sumbu stabilisasi, dengan dibantu oleh EIS.

Dengan spesifikasi ini, para sinematografer mungkin akan lebih memiliki Phantom atau Mavic Pro. Namun para pengguna drone baru atau para non-sinematografer akan merasa spesifikasi ini lebih dari cukup.

Salah satu hal yang membuat Spark ini lebih cocok untuk pemula adalah kecepatannya yang hanya 50 kilometer perjam, serta ketinggian yang hanya mampu hingga 33 meter saja. Jika Anda butuh kecepatan yang lebih tinggi dan cakupan terbang untuk mengambil objek pegunungan, Spark tentu bukan untuk Anda.

Cukup mengejutkan, ternyata drone berkualitas ini dibanderol dengan harga yang cukup masuk akal. Drone ini dibanderol seharga 499 dollar, atau sekitar 6,7 juta Rupiah. Tak ayal hal ini akan mengubah peta permainan industri drone, di mana drone dengan kualitas sekedar untuk group selfie, akan dibuat lebih berkualitas dan dimiliki banyak non-sinematografer. 

0 comments: